Kampus Kopi, Aksi Kolaboratif Nyata Mahasiswa

Stevie Jeremia Sep 27, 2017 Inspirasi, Narakopi, Uncategorized
Berbagi Kisah, Berbagi Inspirasi:

Jujur saja, memang bukan Kampus Kopi yang menjadi tujuan akhir kami dalam perjalanan ini. 12 September 2017 lalu saya, Dek Mazaya, dan Mas Annas melakukan perjalanan dari Bekasi ke Cirebon dengan kereta untuk menyambung perjalanan kami ke Yogyakarta menggunakan mobil, dengan tujuan lomba ASEAN Young Sociopreneurs Program 2017 yang diselenggarakan oleh Global Engagement Office, FISIPOL UGM. Jelas saja di Cirebon hanya mampir. Tetapi bukan sekedar mampir, karena kami berkesempatan bertemu beberapa pihak-pihak kolaboratif seperti Lynne’s Cafe dan Kampus Kopi. Kesempatan kali ini akan saya ceritakan mengenai Kampus Kopi dahulu, sudah janji sama Mas Ponga kemarennya 🙂

Pertama kali melihat pergerakan dari teman-teman Kampus Kopi memang melalui media publik seperti instagram. Seru sekali mengamati (atau menstalking 😀 ) kegiatan mereka, karena hal-hal yang dilakukan memang taktis dan tepat guna. Seperti yang diceritakan di akun KampusKopi_cp, memang gerakan ini merupakan pra-koperasi multi pihak yang berdeterminasi penuh untuk melakukan kegiatan-kegiatan produktif agar terciptanya suatu ekosistem bisnis terintegrasi yang lebih sehat. Kampus Kopi menginisiasi Koperasi Kopi Nusantara bersama rekan-rekan petani, pemanggang kopi, pemilik kedai, barista, hingga ke peminum (pecandu) kopi. Gerakan ini sangat fundamental dan patut ditiru oleh semua pihak, karena memang jika dalam hal ini kopi yang menyatukan seluruh pihak dari hulu ke hilir, maka keberlanjutan kopi itu sendiri menjadi hak dan tanggung jawab dari pihak-pihak itu juga. Nah, teman-teman Kampus Kopi mulai mengorganisir dirinya sejak 2015. Memang jika ada niat, suatu gerakan tidak perlu waktu lama untuk bertumbuh dan berkembang. Mereka terjung langsung di lapangan, menyaksikan sendiri hal aneh yang terjadi dalam alur suplai kopi, yang faktanya terjadi di mana-mana dan pada berbagai komoditi. Menarik memang, bagaimana melihat petani yang turun-temurun tinggal di suatu desa, pohon kopinya juga punya mereka, diproses juga oleh mereka, saat dijual malah pembeli yang menentukan harga. Jika hal ini bisa terjadi, memang mungkin karena biasa terjadi, tetapi bukan berarti itu hal yang benar. Sebagai calon penerus bangsa, seperti kamu juga, Kampus Kopi dengan lihai segera mendekati pihak-pihak seperti yang tadi sudah disebutkan, kemudian melakukan validasi atas kebutuhan bersama dari pihak-pihak ini. Otomatis, para pegiat ini segera memahami alur bisnis yang ada, dengan data yang lebih faktual di lapangan, sehingga mereka bisa memberikan saran yang lebih tepat guna. Dijalankan lah saran ini bersama-sama. Kental memang semangat kolaborasi di sini.

Kampus Kopi
Bincang Santai | Mas Ponga sedang menceritakan tentang kisah di balik Kampus Kopi

Saya sendiri masih terngiang perkataan Mas Ponga ketika sedang berkontemplasi dengan teman-temannya sehabis nongkrong di kafe kekinian, “kita tu ngapain ya jadi pemuda nongkrong-nongkrong gini doang, ga produktif. Mending kita ngapain gitu ngelakuin sesuatu yang produktif, dari pada nongkrong ga jelas gini.” Sederhana, tetapi aksi setelahnya yang membuat kalimat itu menjadi bermakna. Mari beraksi, mari kolaborasi.

Kampus Kopi Collective Project
Jl. Sutawinangun No. 86, Sutawinangun, Kedawung
Cirebon, Jawa Barat 45153

Stevie Jeremia
Pendamping Desa

@narakopi

#marikolaborasi

 

Berbagi Kisah, Berbagi Inspirasi:

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Comments

    Narashakti