Harapan Manis dari Kayu Manis

Stevie Jeremia Sep 12, 2017 Inspirasi, Kisah Desa, Narakopi
Berbagi Kisah, Berbagi Inspirasi:
Cinnamon Piccolo | Minuman ala-ala kafe kekinian pun bisa dibuat di desa, Pak Pieter dengan bangga memamerkan bagaimana hasil taninya dimanfaatkan
Cinnamon Piccolo | Minuman ala-ala kafe kekinian pun bisa dibuat di desa, Pak Pieter dengan bangga memamerkan bagaimana hasil taninya dimanfaatkan

Mewah memang kehidupan Pak Pieter walaupun rumahnya di pelosok Mamasa. Bagaimana tidak, kayu bakar yang dipergunakan sehari-hari setengahnya merupakan kayu manis yang notabene adalah rempah-rempah mahal yang diperjualbelikan bahkan diperebutkan sejak jaman penjajahan Belanda. Memang beliau sendiri pun mengetahui bahwa dibakar bukan merupakan peruntukan utama bagi kayu manis, tapi apa boleh buat, tidak adanya akses pasar memaksa Pak Pieter memanfaatkan kayu manis dengan cara mewah. Tidak salah, lagi pula tetap berguna juga. Langkah selanjutnya adalah memotong seluruh pohon kayu manisnya yang berjumlah 120 pohon, ini baru yang perlu dicegah. Setidaknya pasti ada cara lain selain memotong seluruh 120 pohon itu.

Angka 120 pohon menjadi penting dalam perkiraan stok selama periode pemulihan kulit kayu manis. Mari kita hitung-hitung sederhana sebentar. Dimisalkan dari 120 pohon itu hanya 90 pohon yang bisa dipanen. Durasi masa pemulihan kulit kayu yang sehabis dipanen katakanlah 2 tahun. Jika stok kayu manis segar hanya ideal untuk 6 bulan, maka selama masa pemulihan akan ada 4 periode panen. Dari total permisalan 90 pohon, berarti ada 22 pohon setiap periode panen. Katakanlah kulit kayu manis yang dipanen berdiameter 25 cm dengan tinggi 2 meter, dan ketebalan 0,5 cm. Maka volume kayu manis adalah 7850 cm³. Setelah dikeringkan akan susut 50% sehingga menjadi 3925 cm³. Dengan massa jenis 0.8 gr/cm³, maka berat kayu manis adalah 3,14 kg untuk setiap pohonnya. Jadi setiap periode panen akan menghasilkan 3,14 kg dikali 22 pohon, yaitu 69 kg kayu manis. 69 kg kayu manis ini dibagi 6 bulan, sehingga setiap bulan memiliki stok sekitar 11 kg agar suplai kayu manis bisa stabil. Walaupun sangat tidak akurat, perhitungan sederhana seperti ini sangat aplikatif bagi petani dalam memperkirakan sesuatu, dari suplai hingga ke harga. Penting bagi petani untuk bisa melakukan perhitungan semacam ini secara mandiri, disitu pula titik berat utama dalam pendampingan yang dilakukan Narakopi.

Panen Kayu Manis | Pak Pieter sedang mempraktekan cara memamen kayu manis di kebunnya.
Panen Kayu Manis | Pak Pieter sedang mempraktekan cara memamen kayu manis di kebunnya.

Lanjut cerita mengenai kayu manis, beruntung Pak Pieter bertemu saya, atau lebih tepatnya, saya yang beruntung bisa bertemu beliau. Jelas saja, kapan lagi bisa melihat langsung cara menguliti kulit kayu manis, bahkan ikutan menguliti kayu manis. Merasakan lendir kayu manis segar dan aroma khas yang kuat. Jika ada 1 rempah-rempah yang paling mengingatkan saya pada Bumi Pertiwi, ya kayu manis ini. Sedikit melenceng dari topik, jika kamu berkesempatan untuk mencicipi aroma buah kayu manis, dijamin tidak akan menyangka bahwa aroma buah kayumanis yang belum matang ternyata persis seperti aroma lemon dicampur jahe. Luar biasa! Ok, lanjut ke cerita utama lagi.

Sejak pertemuan itu, Pak Pieter bertekad untuk membuat stok kayumanisnya ini jadi usaha. Tentu saja, saya kecipratan PR untuk membantu beliau dalam mempromosikan kayumanisnya. Bingung mau diolah jadi apa, segera saja saya praktekan kopi ala-ala kafe kekinian dengan mempertemukan kopi, susu, dan kayumanis. Waktu itu saya menggunakan kopi dari Mama Via yang merupakan lokasi pendampingan Dik Maya, dan dipanggang oleh geng panutan kami juga yaitu Wikikopi. Kayu manis digunakan untuk mengaduk piccolo latte ala-ala, dan memang rasanya padu. Kami sama-sama optimis bahwa hasil bumi ini bisa dijadikan sesuatu. Minimal, kalaupun kambiumnya dijadikan kayu bakar, ada harga jual yang lebih wajar yang memang diperuntukan untuk mengasapi daging atau hidangan-hidangan lainnya.

Ambe' Pieter | Kayu manis kering sudah disiapkan oleh Ambe' Pieter dengan rapi sejak jauh-jauh hari.
Ambe’ Pieter | Kayu manis kering sudah disiapkan oleh Ambe’ Pieter dengan rapi sejak jauh-jauh hari.

Memang benar, akan banyak ide untuk mengolah kayu manis. Gampang sekali untuk menemukan berbagai ide kreatif hingga komoditif untuk memberikan nilai tambah bagi si kayu manis. Tentu saja baik saya, Pak Pieter, ataupun Narakopi sendiri tidak sanggup jika harus mengerjakan semua ini sendiri. Pendampingan swadaya Narakopi bulan Juli-Agustus 2017 lalu pun kami menindaklanjuti masalah kayu manis ini, Ambe’ Pieter, ayahnya Pak Pieter sudah menyiapkan kayu manis kering untuk kami bawa. Senang sekali jika bertemu petani yang semangat seperti ini, menambah semangat kami juga yang masih perlu banyak belajar ini. Bagi kamu yang membaca secuplik cerita ini dan berkeinginan untuk berkolaborasi membentuk usaha bersama, mari kita sama-sama mengusahakan niat baik dan semangat menggebu dari Pak Pieter dalam mengolah kayu manisnya.  Tunggu cerita-cerita otentik berikutnya 🙂

Stevie Jeremia
Pendamping Desa

@narakopi

#marikolaborasi

Berbagi Kisah, Berbagi Inspirasi:

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Comments

    Narashakti