Ma’ Odo yang Menghitung

Stevie Jeremia Feb 04, 2017 Inspirasi, Kisah Desa, Narakopi
Berbagi Kisah, Berbagi Inspirasi:

Ma’ Odo Menyortir Biji Kopi | Pekerjaan menyortir biji kopi tentu bukan hal yang biasa buat beliau. Ini pertama kalinya kopi beliau khususnya dan kopi warga Desa Minanga umumnya dihargai lebih tinggi nilainya setelah dilakukan proses tambahan. Melalui hal ini pula warga mulai belajar mengenai keterkaitan antara rasa kopi, kualitas paska panen, dan harga kopi. Esensi yang jauh lebih penting dari pada sekedar menaikkan harga kopi.

 

Panen tahun ini, entah mengapa Pak Odo dan Ma’ Odo menyimpan kopinya. Mungkin karena mereka tidak cocok dengan harga di tengkulak. Beruntung bagi mereka, saya sebagai pendamping di desa Minanga bisa kembali bertugas di sana untuk melanjutkan kegiatan pada periode pertama kemarin, dan salah satu tujuan saya bersama warga adalah untuk mengembangkan kopi. Untuk tujuan itu, jelas tidak mungkin saya melakukan ini sendiri dari desa, tetapi juga perlu ada kolaborasi antar pihak dari hulu ke hilir dengan pemikiran yang sama. Sebagai tambahan, sebelum balik lagi ke desa, saya dan teman-teman Narakopi sudah berusaha untuk menjalin hubungan dan belajar dengan banyak pihak, misalnya Wikikopi (Yogyakarta), Kopi Tanah Air Kita (Tangerang), beberapa kawan perseorangan, dan pihak-pihak lainnya. Memang waktu itu baru sempat datang ke sedikit pihak, tetapi dengan adanya Tim Kota dari Narashakti yang dimotori oleh Patriot Energi angkatan pertama, Bimo Ario dan Bia, jejaring ini bertambah besar. Besar juga rasa terima kasih saya pribadi, tim Narakopi, dan saya mewakili warga desa terhadap kesediaan pihak-pihak yang membantu kami semua dalam melakukan pengembangan kopi.

Persiapan memang segalanya, atau paling tidak hampir segalanya.

Menyatukan antara saya yang tidak tahu apa-apa tentang kopi, masyarakat desa dengan tradisi pertanian kopinya, pihak-pihak perkopian yang tentu lebih berpengalaman tidaklah mudah.

Pertama kali saya datang di desa pada periode pendampingan kali ini musim panen telah berlalu dan bersisa panen akhir. Tentu kualitas dan kuantitas buah kopinya tidak semaksimal ketika musim panen raya. Seingat saya, pemikiran saya waktu itu adalah “yang penting kopi dari Desa Minanga bisa dibeli dengan harga dua puluh ribuan seliter dan itu stabil”, tapi kenyataannya berkata lain. Dangkal memang pola pikir pengembangan suatu komoditi dengan tujuan utamanya meningkatkan harga komoditi tersebut. Mungkin persepsi ini salah juga karena ini pandangan subjektif saya, tetapi jika peningkatan harga komoditi adalah tujuan akhir tanpa petani tahu sebab riilnya, hal tersebut tidak meningkatkan modal sosial warga. Jauh lebih penting apabila warga mengetahui sebab utama kenapa harga suatu komoditi itu segitu dari pada ujug-ujug ada pembeli baik yang dateng membeli dengan harga tinggi tanpa mengedukasi perhitungan di balik harga tinggi tersebut. Fairnya memang warga mengetahui penuh proses pembentukan harga kopi dari petani, tengkulak, pemanggang, kedai kopi, hingga ke peminum kopi akhir dan sebenarnya penting untuk setiap lini ini mengetahui pembentukan harganya. Nah, Ma’ Odo merupakan petani pertama yang saya ajak diskusi mengenai pembentukan harga kopi di Desa Minanga. Ma’ Odo sendiri mengetahui kopi hasil panen dia yang sudah disimpan dengan cara yang kurang tepat akan mengurangi kualitas biji kopinya. Idealnya memang Ma’ Odo yang menentukan sendiri harga kopinya, tetapi jangan dengan sistem nembak harga. Ma’ Odo sendiri lah yang seharusnya menentukan harga kopi yang dimulai dari menentukan harga setiap proses di dalamnya dengan tingkat kesulitan suatu tahap pengolahan kopi sebagai pembandingnya. Dari cara ini suatu biji kopi bukan dinilai dari kualitas akhirnya, tetapi dari prosesnya. Dengan perhitungan matematika sederhana, Ma’ Odo mampu membentuk harga kopinya sendiri. Hasil perhitungan Ma’ Odo dengan saya ini yang saya jadikan acuan standart pembentukan harga kopi Desa Minanga. Masalah harga lebih tinggi atau lebih rendah biarlah menjadi dampak saja dari pengetahuan mengenai pembentukan harga yang dimiliki warga. Cara ini juga mencegah petani semena-mena menaikkan harga komoditi, jadi sepertinya cara ini cukup ampuh untuk memberikan kepantasan harga dari hulu ke hilir.

Jelas kopi dari Desa Minanga bukan kopi terbaik, apa lagi kopi terenak, enak ga enak kan subjektif. Tetapi kami berusaha menyajikan realita yang ada dengan cara yang seadil mungkin bagi semua pihak. Terima kasih banyak juga kepada pihak-pihak yang sudah mau mengkritisi hasil kopi dari desa-desa binaan kami.

 

Sortiran Ma’ Odo | Kopi Ma’ Odo banyak yang tersortir, mayoritas dikarenakan oleh proses penyimpanan yang kurang tepat. Tentu ada sebabnya kenapa petani kopi profesional turun temurun bisa tidak mengetahui tentang cara penyimpanan kopi yang baik dan benar. Tetapi dari pada menjadi pihak yang hanya bisa berbicara pada ranah “seharusnya”, marilah kita sama-sama menjadi pihak yang berkolaborasi bersama untuk kebaikan bersama.

 

 

Stevie Jeremia

Patriot Energi Desa Minanga melalui program KESDM

Melakukan fokus pada pengembangan kopi

@narakopi

 

Berbagi Kisah, Berbagi Inspirasi:

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Comments

    Narashakti