Determinasi Nenek Manang

Stevie Jeremia Feb 04, 2017 Inspirasi, Kisah Desa, Narakopi
Berbagi Kisah, Berbagi Inspirasi:

Nenek Manang Menyortir Biji Kopi | Sama seperti Mama Odo, menyortir biji kopi merupakan hal yang baru bagi mereka. Walaupun bersusah payah, semangat Nenek Manang menjadi inspirasi bagi warga sekitar dan saya sendiri.

 

Perkenalkan, mereka adalah Nenek Manang. Ya, di Mamasa “nenek” itu berlaku untuk laki-laki dan perempuan. Jadi untuk nenek laki-laki sebutannya Nenek Muane dan untuk perempuan Nenek Baine. Manang sendiri sebenarnya sebutan, bukan nama. Artinya kurang baik, tetapi begitulah warga memanggil mereka. Artinya adalah tidak mempunyai keturunan. Nenek Manang sehari-hari mengurus urusan rumah tangga, berkebun, dan berprakarya tapis. Mereka sangat ahli dalam membuat tapis dan prakarya lainnya berbahan rotan atau bambu. Tapis yang dibuatnya biasa dipakai sendiri untuk kebutuhan peralatan rumah tangga dan panen kopi. Beliau menjual tapis itu juga seharga lima puluh ribu per tapis, relatif mahal, tetapi harga yang sangat pantas untuk alat semultifungsi ini.

Nenek Manang menyimpan kopinya sebagian, ada sekitar 40 liter kopi berkulit tanduk yang disimpan beliau. Karena tata cara penyimpanan yang kurang baik, kopi Nenek Manang yang rusak jadi cukup banyak. Dari 40 liter kopi berkulit tanduk ini setelah dikupas jadi sekitar 12,5 kg biji hijau kopi. Perbandingan yang wajar ketika kopi tidak disimpan dengan cara yang benar. Untungnya Nenek Manang memiliki niat dan kerendahan hati untuk bertukar ilmu dengan saya. Ilmu perkopian yang saya ketahui pun diambil dari sesepuh perkopian yang sudah banyak mengajari saya. Yang paling simpel misalnya petik merah seragam, dijemur dan diberi jarak dengan tanah, biji kopi harus kering kisaran 13 % kelembaban air sebelum disimpan, sortasi biji kopi setelah ditumbuk. Ya, simpel-simpel tapi susah juga ketika dikerjakan. Oh ya, untuk mengetahui kadar air kisaran 13% bisa digunakan dengan cara menggigit biji kopi yang dites, atau pengamatan kulit ari kopi yang seharusnya sudah mudah terlepas, atau bisa juga dengan cara ditekan dengan kuku jika petani kopinya sudah ompong, hehehe. Kendala bagi Nenek Manang ada di sortasi biji kopi, karena sudah berumur, pengelihatan Nenek Manang tidak setajam dulu. Tapi asiknya mengamati Nenek Manang menyortir biji kopi adalah karena dengan segala keterbatasan beliau, tetap saja dilakukan dengan sepenuh hati. Walaupun susah dan merepotkan, tetap saja mereka bersungguh-sungguh memilah-milah biji kopi. Tentu pekerjaan ini dibantu dengan tetangganya juga. Hasil sortasi Nenek Manang memang belum maksimal, tapi tetap saja saya sebagai pendamping desa di Desa Minanga merasa bangga karena para pakar pertanian kopi ini mau berpikiran terbuka dan bertukar ilmu dengan saya. Nenek Manang salah satu petani kopi dengan kebun terbersih di Desa Minanga, mungkin karena mereka tidak lagi mengurusi sawah. Tetapi justru ada pelajaran yang bisa dipetik dari Nenek Manang, yaitu mereka berkolaborasi dengan saudara-saudaranya untuk mengurusi sawah, hasilnya nanti dibagi. Nenek Manang bisa mendapatkan beras sesuai kebutuhannya, saudara-saudaranya bisa mendapatkan pekerjaan, di sisi lain Nenek Manang bisa fokus mengerjakan hobinya di prakarya rotan dan bambu dan rutin membersihkan kebun kopi. Sistem kolaborasi yang menarik untuk diterapkan dengan cara yang lebih masif.

 

Nenek Manang Muane | Nenek Manang Muane sedang menyortir biji kopi. Beliau sangat teliti dalam menyortir biji kopi, sayang pengelihatan yang sudah tidak jernih menghalangi hasil optimalnya. Beruntung, sanak saudara di sekitarnya bisa turut membantu menyortir biji kopi.

 

 

Stevie Jeremia

Patriot Energi Desa Minanga melalui program KESDM

Melakukan fokus pada pengembangan kopi

@narakopi

Berbagi Kisah, Berbagi Inspirasi:

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Comments

Narashakti