Patriotisme Masa Kini

Rico Lumban Gaol Dec 01, 2016 Inspirasi, Kisah Desa
Berbagi Kisah, Berbagi Inspirasi:

“Berjalan atas nama idealisme”

Patriotisme yang mereka sebut sebagai  “Patriot Is Me” menjadi sebuah idealisme yang mampu membawa mereka ke wilayah-wilayah terdepan, terluar, bahkan terpencil sekalipun. Jauh dari keramaian seperti halnya yang mereka temui di kota, tidak didukung signal, dan masih banyak lagi tantangan lainnya, yang pasti belum mendapatkan penerangan layaknya tempat darimana mereka berasal. Idealisme itu pula yang menciptakan zona nyaman baru bagi mereka dan meninggalkan zona nyaman “mainstream”.

Tentu jasa mereka tidak bisa diukur dengan sebesar apapun upah yang mereka dapat dari penyelenggara sebut saja dalam hal ini Kementerian ESDM dalam program “Patriot Energi”. Material tidak cukup mampu membayar waktu yang mereka berikan, hati yang mereka sisihkan, pikiran yang mereka bagikan, serta cinta yang mereka pancarkan untuk bumi pertiwi. Disaat orang sibuk dengan dunianya masing-masing mereka memilih jalan idealisme ini, masuk desa dan melewati hutan serta berbagai tantangan lainnya.

Tidak mudah. Penulis mengagumi mereka yang mengorbankan masa mudanya untuk menyumbangkan satu cerita untuk bangsa indonesia. Mendampingi masyarakat dalam pembangunan infrastruktur di desa. Menganyomi dan membuka wawasan baru bahwasanya rasa kepemilikan adalah barang berharga yang telah pudar dari bumi pertiwi.

Rasa kepemilikan oleh para pemimpin masa kini kepada daerah yang dipimpinnya, rasa menghormati pemimpin oleh rakyatnya. Rasa memiliki infrastruktur yang dibangun oleh pemerintah melalui para kontraktor, rasa memiliki apa yang ada di desa. Mereka hadir untuk itu. Menciptakan rasa yang hampir pudar. Iya, melalui program “Patriot Energi”.

“Revitalisasi hal mainstream”

Kali ini penulis ingin berbagi kisah pemuda-pemudi yang mengabdikan dirinya ke Riau, Pekanbaru, tentang hal-hal kecil yang terlupakan oleh kebanyakan orang. Hal yang dianggap terlalu mainstream padahal kalau tidak disinggung sama artinya mendukung/menciptakan generasi buruh.

Mereka merupakan satu kesatuan atau tim yang penulis sebut sebagai tim “Patriot Riau”. Mereka sedang menggalakkan perihal membaca hingga ke pelosok nusantara. Mereka pada umumnya sudah berada di Riau sejak bulan Juli, dan ada beberapa yang sudah pernah di Riau selama lima bulan dari bulan Oktober 2015 hingga Maret 2016.

Saat ini gerakan mereka sudah mengakar bahkan sudah mampu memengaruhi beberapa orang atau golongan lain. Mereka melakukannya diawali dengan membangun gerakan Buku Riau. Harapannya melalui gerakan ini pengetahuan serta wawasan seluruh anak Indonesia terutama di wilayah mereka mengabdi dapat bertambah. Mereka percaya dan akan tetap percaya bahwasanya buku adalah jendela dunia.

Saat ini, 24 November 2016, mereka sedang menunggu kedatangan kiriman buku-buku dari Jakarta juga Bandung. “September lalu kami merencanakan Gerakan Buku Riau. Mungkin ini adalah hal biasa, mengumpulkan buku dan membagikan. Bisa dibilang mainstream ya kegiatan begini. Tapi jujur, saya sendiri dan tim belum pernah melakukan ini. Kita mencoba (merevitalisasi) kegiatan mainstream,” sambut Tia, salah satu tim Patriot Riau, ketika penulis meminta diceritakan kegiatan yang sedang dilaksanakan.

“Dimulai dengan mengutarakan niat ke teman-teman terdekat. Cuma cerita aja sih sebenarnya, kalo bisa bantu ya syukur, kalo enggak ya minta doanya, hehe. Ehh… Beberapa minggu kemudian, banyak respon postif dari teman-teman di Jakarta yang tergabung dalam komunitas masing-masing. Mereka menyatakan dukungannya pada program kami ini. Dengan cara mengempanyekan dan juga menyebarkan proposal,” tambahnya lagi.

“Alhamdulillah, rejeki anak soleh. Kami mendapatkan 300 buku dari Jakarta International School (JIS), kemudian 7 koli juga 12 paket sumbangan dari Gramedia. Selain itu ada satu komunitas Al-Bayyinah Charity Club (ABC), yang salah satu anggotanya itu temannya Gina. Lagi-lagi memang sudah rejeki anak soleh. Setelah Gina mengungkapkan mimpi tim kami pada temannya itu, ternyata memang komunitas ABC ingin mengadakan workshop dan pembuatan perpustakaan pelosok di luar Jawa.”

“Akhirnya kami memutuskan untuk mengadakan workshop tersebut di desa saya, di Aur Kuning. Tanggal 12 November kemarin, tim ABC sampai di Pekanbaru  bersama dengan 600 buku juga beberapa mainan anak-anak yang akan disebar ke 6 desa lainnya. Tanggal 13 diadakan workshop sekolah kreatif di Aur Kuning. Workshop tersebut lebih menekankan pada kreatifitas anak-anak untuk bermimpi yang banyak, aneh, dan tinggi, Hehe”

“Lucu, mereka ada yang mau jadi anggota DPR yang gak korupsi, jadi polisi di Amerika, bikin jalan dari kecamatan sampai desa, punya pacar artis, punya pesawat sendiri dan lain lain,” jawabnya ketika penulis meminta terkait cita-cita yang anak-anak setempat ujarkan saat acara berlangsung.

“Artinya meski mereka tinggal di pelosok yang tiap hari main di sungai sama manjat pohon, mimpi mereka tinggi kok walaupun nontonnya sinetron “senandung cinta” atau “anugrah cinta” aja,” tambahnya dengan seloroh menanggapi efek dari kehadiran penerangan di daerah-daerah apalagi tanpa pendampingan.

“Nah, sekarang kita lagi nunggu buku yang tadi tuh yang 7 koli dan lain lainnya dari Jakarta. Hari ini sudah dikirim kemungkinan 2-3 hari lagi sampai di Pekanbaru.”

“Pendampingan itu memberdayakan”

“Salah satu kekeliruan orang kota ialah menganggap bahwa kebutuhan orang desa sama saja dengan kebutuhan orang kota. Pemikiran seperti ini mampu merusak apa yang ada di desa. Bahkan parahnya lagi beberapa orang kota datang ke desa hanya untuk menguntungkan golongan mereka atau halusnya menjadikan masyarakat sebagai objek pasar mereka. Padahal yang namanya pendampingan itu ialah memberdayakan masyarakat agar mereka lebih kuat dan berdaya akan potensi mereka di desa serta mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka tanpa rasa ketergantungan. Sederhananya, pendampingan itu ialah kegiatan memberdayakan masyarakat agar ampu menjadi pelaku bukan hanya sebagai objek,” jawab salah satu dari tim Patriot Riau ketika penulis bertanya terkait pendampingan yang mereka lakukan dan keunikan gerakan yang sedang mereka gencarkan.

Tim Patriot Riau: 1. Fitrianti Sofyan (Tia) 2. Gina Annisa YF (Gina) 3. Doni Aprilianto (Doni) 4. Husni Mubarak (Husni) 5. Laksmi Dewi (Laksmi) 6. H. Rodriguez MD (Digo).

workshop

Gambar 1. Pembukaan Workshop oleh Kepala Sekolah

kelas

Gambar 2. Materi Kelas “Patriot Energi”

membaca

Gambar 3. Materi Kelas “Membaca”

tim-patriot

Gambar 4. Tim Patriot Beserta Tim ABC

Mau mengenal lebih dalam tentang Bang Rico?

Kunjungi: https://ricolg.blogspot.co.id/

Berbagi Kisah, Berbagi Inspirasi:

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Comments

Narashakti