MERETAS HARGA PETATAS BERSAMA PASUKAN IBU-IBU

Darmadi Oct 09, 2016 Inspirasi, Kisah Desa
Berbagi Kisah, Berbagi Inspirasi:

whatsapp-image-2016-10-07-at-5-00-44-pm

Saya percaya bahwa ibu-ibu desa tidak hanya soal naik skuter matic rating lampu kanan tapi belok kiri. Lagian ibu-ibu mainang gak ada yang pakai matic juga hha. Saya melihat ada semangat yang menggelora di mata dan jiwa ibu-ibu. Seperti semangatnya ibu Marwah membela Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Mungkin Dimas kanjeng baiknya di taruh di esdm aja, untuk menggandakan orang-orang baik. #eh. Maka kalau begitu jangan jadi Taat Pribadi, Jadilah Pribadi yang taat.

Mainang begitu nama daerahnya. Daerah ini ibarat oase di padang pasir. Lembah hijau nan subur di tengah pegunungan kering di Alor Tengah Utara. Strawberry,kol, labu, wortel dan aneka sayuran tumbuh subur di desa ini. Aneka umbi-umbian dari mulai petatas (ubi jalar) keladi, singkong, talas begitu melimpah.

Mainang merupakan tempat teman saya, Lina, menjalankan tugas sebagai patriot energi. Ini kali kedua saya berkunjung ke desanya. Sebelumnya saya berkunjung untuk mendampingi petani kopi dalam pelatihan pasca panen kopi. Kali ini saya datang untuk membantu desa Lina dalam pengolahan petatas.

Kali pertama datang ke Mainang saya bertemu dengan sosok inovator desa yang ramah dan penuh semangat. Pak Yas namanya. Beliau adalah yang merintis tanaman strawberry di Mainang. Banyak keahlian yang beliau miliki.Mulai dari cocok tanam, membuat aneka furniture, genteng, pot dll. Smuanya beliau pelajari secara otodidak. Di tengah kami berbincang, saya iseng bertanya tentang harga berbagai komoditi di desa. Salah satunya petatas. Wah mas, kalau petatas itu banyak sekali di sini. Kalau harga ya tergantung kesepakatan aja, “kata Pak Yas dengan semangat. Kalau bisa Mas ajari kami olah itu petatas, nanti bapak siap pasarkan,”tambahnya. Wah siap pak bulan depan saya datang untuk ajarkan pembuatan kripik aneka rasa dengan bahan petatas.

Hari minggu, 2 Oktober 2016 saya dengan lina menepati janji dengan Pak Yas untuk mengajari warga tentang olahan keripik sekaligus mengecek potensi pltmh di air terjun 6 susun di desa sebelah. Tanggapan warga sangat positif. Bahkan bapak desa siap menganggarkan pembelian alat keripik dan pemberian modal usaha untuk kelompok usaha produktif dari dana desa. Kabar gembira lainya ibu sekretaris desa bersama pasukan ibu ibu mainang pasca pelatihan ini juga bersiap menampilkan berbagai produk olahan baik keripik dan aneka olahan produk holtikultura di expo peringatan Hari Pangan Nasional.

Perjalanan masih jauh. Tapi saya memilih optimis dan percaya dengan Pak Yas, Ibu Sekdes bersama pasukan ibu-ibu untuk berkarya dengan sumber daya desa yang mereka punya. Harga petatas harapanya bisa lebih pantas setelah diolah. Saya percaya bahwa ibu-ibu desa tidak hanya soal naik skuter matic rating lampu kanan tapi belok kiri. Lagian ibu-ibu mainang gak ada yang pakai matic juga hha. Saya melihat ada semangat yang menggelora di mata dan jiwa ibu-ibu. Seperti semangatnya ibu Marwah membela Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Mungkin Dimas kanjeng baiknya di taruh di esdm aja, untuk menggandakan orang-orang baik. #eh. Maka kalau begitu jangan jadi Taat Pribadi, Jadilah Pribadi yang taat.

Tentang Penulis:

https://pakdhedarmadi.wordpress.com

Instagram

Twitter

Berbagi Kisah, Berbagi Inspirasi:

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Comments

    Narashakti