MENELUSURI JEJAK-JEJAK KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT PEGUNUNGAN DI ALOR #1

Darmadi Sep 24, 2016 Inspirasi, Kisah Desa
Berbagi Kisah, Berbagi Inspirasi:

“Biarkan orang Papua mandiri dengan sagunya, orang Flores dengan sorgumnya, dan orang Alor dengan jagungnya. Kalau anak-anak kecil dan anak mudanya selalu dijejali dengan beras tanpa melihat sejarah pemenuhan pangan nenek moyangnya, maka bangsa ini akan terus bergantung pada beras. Kita akan terus mengimpor beras dan menggantungkan diri pada bangsa lain.”

Selamat Hari Tani Nasional teman-teman !! Aku tahu isu pertanian memang tidak seksi untuk dibicarakan di minggu-minggu ini. Mungkin kalah seksi dengan Angelina Jolie yang mau pisah ranjang dengan Bradpitt.  Bisa juga kalah seksi dengan berita Mas Agus Yudhoyono yang ganteng, beristri cantik, karir militer oke, tapi memilih jadi calon Gubernur DKI. Atau kalah seksi dibanding sidang Jesica yang sidangnya sudah masuk pada putaran 28. Entahlah, sidang Jesica ini sudah semacam sinetron “Cinta Fitri” 1,2,3 sampai Fitri pun bosan bercinta. Atau  sinetron “Tersanjung” yang dulu sempat melegenda bak legenda “Sangkuriang”. Atau juga sinetron “Anak Jalanan”  dengan sponsor mars Perindo. Kalian boleh iseng survei ke anak-anak, mana yang lebih hafal lagu mars Perindo atau lagu-lagu kebangsaan. Selamat pak HT, anda telah mempelopori  lagu anak-anak yang kekinian.  Sinetron ini heboh sampai pelosok Alor. Sampai-sampai anak kepala desa ditempatku tinggal, heboh minta dibelikan baju Boy. Hadehhh, jaman berulang, macam anak 90-an yang heboh dibelikan baju dan topi sinetron “Tersayang”. Untung gak heboh minta dibelikan motor Ninja.

Terlepas dari kehebohan itu, sebagai anak petani, aku cukup “baper” untuk membuat tulisan sederhana tentang petani. Aku terlahir dari keluarga petani salak di Sleman.Tapi menuliskan tentang petani salak rasanya bikin “lemah syahwat”, eh lemah semangat maksudnya. Dulu dengan menjual salak 1 kg sudah dapat membeli 2 kg beras. Sekarang untuk membeli 1 kg beras saja mesti menjual hingga 2-3 kg salak. Daripada makin “baper”, mending aku sedikit cerita tentang cerita positif dari tanah Alor. Kali ini ceritanya tentang bagaimana petani di daerah  pegunungan Alor mencukupi pangan sehari-hari.

Ketika Wanita Batak Jatuh Cinta Dengan Alor

Minggu lalu, selama 5 hari 5 malam aku bersama 5 teman patriot melakukan survei PLTS dan PLTMH di daerah Alor Selatan dan Alor Timur Laut. Di tengah survei aku berjumpa dengan sosok wanita yang kulitnya putih dan berbeda dengan perawakan orang Alor pada umumnya. Ternyata sosok wanita itu adalah orang Batak yang menikah dengan orang asli Alor. Aku lupa nama lengkapnya, yang kuingat dia punya marga Lingga. Okay, kita sebut saja dia Kak Lingga. Pertama aku tanya, “kok bisa nikah dengan orang Alor Kak,”tanyaku. “Wah kalau udah cinta setengah mati mau gimana lagi,“Jawabnya dengan bumbu senyuman. Kulihat suami di sampingya juga tersipu-sipu. Aduh jadi pengen,eh.

Kak Lingga sudah 6 tahun tinggal di Desa Silaipui, Kecamatan Alor Selatan. Tiga bulan awal tinggal di desa, hidupnya penuh stress dan banyak mengurung diri di rumah. Berhari-hari terserang diare karena sering makan Katema. Katema adalah salah satu makanan pokok Alor yang dibuat dari campuran jagung dengan sayuran. Rasa-rasanya dia begitu menyesal tinggal di desa pedalaman Alor.

Menginjak  bulan-bulan berikutnya dia coba bangkit. Perlahan dia mulai bisa beradaptasi dengan warga dan alam di desanya. Bahkan dia menemukan kebahagiaan yang tidak ditemuinya ketika merantau di Jakarta dulu.

“Di sini semuanya ada, Mas. Mau makan tidak susah. Mau sayur apa aja juga tinggal petik di kebun, “tambahnya. “Beras kami juga tidak pernah kurang. Tahun lalu kami panen sampai ada yang 80 karung. Itu kita makan juga gak habis-habis,”kata kak Lingga dengan senyum lebar. “Kami hanya sekali beli beras saat gagal panen beberapa tahun lalu. Orang di sini juga baik-baik mas, apa yang mereka punya pasti dibagi dengan tetangganya. Saya kadang dapat hasil buruan rusa, babi, burung juga pernah. “

Kak Lingga juga berkisah tentang cara dia liburan di desa bersama keluarga. “Mas, kalau kami sudah jenuh dengan rutinitas, kami piknik ke sungai sambil membawa bahan makanan. Nanti suami saya cari ikan, udang, ketam sama belut. Oya, saya sampai ketakutan waktu awal-awal di sini. Waktu itu suami saya dapat belut sebesar lengan saya. Dia menunjukkan tangannya yang gemuk. Udang-udang di sungai sini juga besar-besar, Mas. Bisa segede lengan saya ini lho, Mas,” katanya dengan muka berseri-seri.

“Wah itu udah kayak lobster ya, Kak hehe,“ sahutku. Jadi sambil nunggu suami cari ikan, udan, ketam, dan belut, saya bikin bumbu sama minyak kelapa. Habis  itu, hasil tangkapan di goreng dengan minyak kelapa. Khusus untuk ketam (semacam kepiting) dibuat sambal. Namanya sambal kepiting wangi. Di pinggir sungai, kami menikmati makanan bersama keluarga. Setelah kenyang kami langsung mandi di sungai. Habis mandi kami pulang dan langsung tidur,” begitulah kak lingga berbagi tentang kebahagiaanya di desa. Dia dan keluarganya adalah role model untuk ketahanan pangan skala keluarga.

Jon Jandai di Alor

Sebelum bertemu kak Lingga aku sempat bertemu dengan Kepala desa Pido saat kami survei PLTMH dan PLTS di daerah Ilemang. Temanku Patriot Energi, Dirga, sering berkisah tentang nikmatnya tinggal di Pido. Makan apa saja ada. Sayur tinggal petik di samping rumah. Mau alpukat, lemon, kelapa juga tinggal ambil saja. Dengar-dengar dia juga ditawarin tanah kalau mau tinggal di sana. “Udah Dir, tinggal bawa istri aja ke situ hehe.” Ceritanya sering diulang-ulang saat kami kumpul Patriot Energi di kota Kalabahi. Aku jadi makin penasaran. Temen-temenku yang tinggal di Pantar pada mupeng dengar ceritanya. Maklum ada beberapa tempat di mana rumput saja kadang enggan tumbuh apalagi sayur. “Air saja beli, apalagi buat menyiram tanaman,” kata kawanku yang di Pulau Pantar.

Rasa penasaranku terobati ketika langsung berkunjung ke rumahnya. kanan, kiri sampai belakang rumah semuanya penuh dengan sayur-sayuran. Mulai dari kol, wortel, kacang, sawi, bayam, bawang, dan berbagai macam sayuran lainnya ada. Sore itu di bawah rintik hujan dan seberkas pelangi, aku berkeliling melihat-lihat kebun sayur milik pak kades. Udara setelah hujan berpadu hijaunya sayuran membuat sore itu semakin syahdu.  Kulihat Istri pak kades sedang memetik sayuran. Mungkin untuk makan kami nanti malam. Di dekatnya juga terlihat pak kades yang sedang membuat api untuk mengusir dingin.

“Wah sayurnya subur ya, Pak? Ini pakai pupuk apa ya,”tanyaku. Ini alami saja mas, kami tidak pernah pakai pupuk,” jawabnya. Kulihat-lihat ke sekitar, tanahnya memang hasil lapukan dari erupsi gunung api, jadi sangat subur. Setiap harinya keluarga pak kades memenuhi kebutuhan pangannya dari sayuran di sekitar rumahnya. Sedangkan berasnya dia ambil dari panen padi ladang di pegunungan. Satu-satunya yang kadang harus beliau beli adalah kebutuhan lauk. Beliau berternak juga tetapi tidak banyak. Aku dengar dari Dirga beliau juga punya beberapa rusa. Bulan-bulan lalu saat bupati singgah ke rumahnya, salah satu rusanya diberikan kepada bupati.

Jauh sebelum bertemu dengan Pak kades Pido, aku sempat bertemu Pak Yus di Desa Mainang, Kecamatan Alor Tengah Utara. Aku menemui buah strawberry di sana. Ternyata dialah sosok dibalik adanya buah strawberry di daerah Mainang, tempat Lina bertugas. Awalnya aku dengan teman-teman kaget saat Lina membawakan kami strawberry saat kami kumpul di kota. Beneran ada strawberry di Alor ya? Kami kompak dengan muka penasaran.

Semua rasa penasaran itu terjawab saat aku berkunjung ke desa Mainang. “Mainang adalah surga di Alor,” kataku. Desa ini ada di lembah. Air melimpah dan tanah sangat subur. Kalau malam, kita ibaratkan tidur di tengah mangkok dan bisa memandang “milky way” dengan jelas. Benar-benar sempurna.  Saat ke Mainang, aku, bersama dua teman patriot energi, Maul dan Lina, memulai sebuah program pemberdayaan untuk petani kopi. Kebetulan aku sudah memulainya di Manmas, sehingga Lina memintaku untuk bersama-sama mendampingi petani kopi di desanya.

Di sela-sela pendampingan kami mengobrol banyak hal dengan Pak Yus. Dia menanam banyak komoditi holtikultura di lahannya. Selain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sebagian juga di jual. Dia bercerita kalau mulai mengembangkan strawberry dari satu pohon. Kini lahannya sudah penuh dengan tanaman strawberry. Selain strawberry, untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga beliau juga menanam petatas, sebutan ubi jalar di Alor. Dia bercerita kalau petatas di mainang dan desa sekitarnya itu sangat banyak. Sampai-sampai kalau jual petatas itu tidak ada standar harga yang pasti.

“Ya tergantung kesepakatan aja mas, “katanya. “Sebetulnya saya pengen olah petatas ini mas supaya harganya bisa lebih baik, tapi saya belum tahu caranya.”

“Boleh pak nanti kalau bapak berminat kami ajarkan pengolahan makanan dengan bahan dasar petatas,”sambungku.

“Siap mas, saya nanti juga siap pasarkan produk olahannya,” jawab Pak Yus dengan semangat.

Rencana tanggal 2 oktober 2016 ini kami akan memulai untuk belajar bersama Pak Yus dan warga Mainang untuk mengolah petatas menjadi produk makanan yang punya nilai tambah. Pak Yus adalah sosok inovator yang ada di desa Mainang. Beliau punya semangat belajar yang tinggi. Hampir setiap malam dia minta diajarkan kursus komputer ke teman saya, Lina. Dia bercita-cita juga untuk belajar membuat gerabah, karena banyak tanah liat di desanya.

“Semangat pak Yus, mari bangun desa.”

Sekelumit cerita di atas mencerminkan bahwa banyak sosok luar biasa yang tersebar di berbagai desa. Tidak usah jauh-jauh ketemu Jon Jandai di Thailand  untuk sekedar belajar bertani organik dan ketahanan pangan. Ada banyak Jon Jandai yang tersebar di berbagai pelosok negeri ini. Tinggal kita begerak ,menggali lebih dalam dan lebih detail tentang kearifan lokal di daerah kita.

Pangan Lokal Ala-ala Alor

Jauh sebelum pemerintah menggembor-gemborkan ketahanan pangan sampai program pangan lokal, berbagai masyarakat,  di pelosok Indonesia telah memiliki keunikan tersendiri bagaimana mengelola ketahanan pangannya.  Tak terkecuali bagi masyarakat Alor, Nusa Tenggara Timur. Mendengar kata NTT, seringkali muncul “stereotype” daerah yang gersang dan tertinggal. Pada beberapa sisi mungkin benar, tapi ada banyak hal yang berhasil menjungkirbalikan persepsiku tentang NTT khususnya Alor.

Pertama kali datang ke Desa Manmas, aku dihadapkan pada kebiasaan sarapan yang tidak biasa. Biasanya sarapan pagi orang Jawa kebanyakan nasi. Entah nasi lengkap dengan sayur dan lauk, nasi goreng, nasi kuning atau mungkin nasi uduk. Kalau sarapan di Manmas biasanya minum kopi dengan ubi, pisang rebus, singkong, jagung, atau keladi. Paling asyik kalau rebusan makanan tadi dicocol dengan sambal kepiting wangi. Kalau ada Pak bondan, pasti bilang “maknyus” sambil “ngeces”. Sambalnya tidak kalah “hot” dari Farah Quen hehe. Awalnya aku kira rebusan ubi-ubian  itu sebagai “camilan” saja. Aku menunggu-nunggu nasi di pagi itu dan di pagi-pagi berikutnya. Akhirnya aku paham bahwa sarapan ala-ala orang gunung di Alor jarang dengan nasi. Maka dengan sarapan tanpa nasi 7 kali dalam seminggu sama dengan 2 hari (6 kali) lebih tanpa nasi. Oleh karena itu bisa dikatakan orang gunung di Alor ini sudah mendukung gerakan pangan lokal dan diet nasi, jauh sebelum pemerintah kampanye tentang hal itu.

Makan siang dan makan malamnya orang Alor kadang juga tanpa nasi. Dalam satu minggu keluarga tempat aku tinggal sering kali memasak jagung katema dan jagung bose. Jagung katema adalah olahan jagung dengan campuran berbagai sayuran dan kacang-kacangan. Jagung katema ini “paling jos” kalau dimakan dengan ikan asin dan sambal kepiting wangi. Pokoknya rasanya “pecah” di lidah. Kalau jagung bose juga tidak kalah keren. Jagung bose ini diolah dari jagung, kacang-kacangan dengan santan kelapa. Dimakan saat panas dengan campuran susu pasti bikin meleleh di lidah. Kalau misal dalam satu minggu sebuah keluarga memasak olahan jagung katema atau bose 2 kali ditambah sarapan dengan rebusan ubi-ubian atau pisang sebanyak 7 kali maka keluarga Alor di gunung ini sudah 3 hari dalam seminggu mendukung gerakan pangan lokal. Tak hanya itu, kadang sebuah keluarga ketika memasak nasi juga dicampur dengan jagung yang telah ditumbuk.

Selain makanan pokok olahan dari jagung dan kacang-kacangan, ada beberapa “camilan” yang diolah dengan bahan dasar jagung. Ada jagung titi, emping jagung sampai jagung tembak. Jagung titi dibuat dari jagung yang disangrai lalu dititi (ditumbuk) dengan batu sampai pipih. Jagung titi enaknya dimakan dengan biji kenari. Perpaduan biji kenari dengan jagung titi menciptakan sensasi gurih yang tiada duanya. Olahan yang mirip jagung titi adalah emping jagung.

Biasanya makan tersebut hanya diolah dengan bumbu garam, emping jagung ini udah maknyus rasanya. Oh iya, kalau kalian ke Alor harus mencoba jagung tembak. Bentuknya sama persis dengan “popcorn”. Disebut jagung tembak karena pada saat pembuatan terdengar suara-suara ledakan seperti tembakan. Cara membuatnya dengan memasukkan jagung yang sudah dikeringkan ke dalam ketel. Ketel itu digoyang-goyang di atas kobaran api. Kalau penikmat sudah mendengar suara-suara ledakan, itu tandanya jagung tembak sudah mulai masak.  Paling enak kalau di makan masih hangat. Begitulah “camilan” kebanyakan orang-orang di Alor. Berbahan  pangan lokal, murah dan menyehatkan.

Lihat Lagi Sejarah, Agar Hidup Makin Terarah

Cerita di atas membuatku berpikir, apakah setiap daerah di indonesia ini harus disuapin atau bahkan sedikit memaksakan pengadaan raskin (beras miskin)? Apakah setiap daerah harus bisa berswasembada beras? Ada baiknya jika kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah dapat memerhatikan kearifan lokal khususnya dalam hal pangan. Biarkan orang Papua mandiri dengan sagunya, orang Flores dengan sorgum dan orang Alor dengan jagungnya. Kalau anak-anak kecil dan anak mudanya selalu dijejali dengan beras tanpa melihat sejarah pemenuhan pangan nenek moyangnya, maka bangsa ini akan terus bergantung pada beras. Kita akan terus mengimpor beras dan menggantungkan diri pada bangsa lain. Oleh karena itu mari melihat sejarah, agar hidup kiat makin terarah.

Alor, 24 September 2016

  • Catatan: Tulisan ini adalah pengantar tulisan untuk tulisan berikutnya yakni bertepatan dengan hari Pangan Dunia. Di bagian 2 akan bercerita tentang sistem pertanian tradisional di salah satu suku bekas kerajaan Batulolong, ada juga bagian cerita hasil wawancara dengan sesepuh adat yang sedang menulis buku tentang pertanian di salah satu suku di Alor Selatan.

 

Tentang Penulis:

https://pakdhedarmadi.wordpress.com

Instagram

Twitter

Berbagi Kisah, Berbagi Inspirasi:

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Comments

Narashakti