Pemuda Pewaris Tunggal

Rico Lumban Gaol Aug 20, 2016 Inspirasi
Berbagi Kisah, Berbagi Inspirasi:

“Negara kita pernah menjadi rebutan para penjajah tak lain karena melihat bahwa tanah dan air di negara kita adalah titisan surga.”

Pernyataan di atas merupakan pernyataan yang cukup mewakili bahwa sesungguhnya Indonesia memiliki potensi SDA (Sumber Daya Alam) yang tidak semua negara memilikinya. Ingin sekali menampilkan besarannya sebagai data-data pendukung tapi apa daya dari sisi lain tidak ingin menampilkan apa yang bukan hasil sendiri. Tidak ingin asal mencantumkan data-data yang sudah menjadi olahan pihak lain. Tidak ingin karena tidak tahu darimana data itu didapatkan, dengan cara apa, dan bagaimana validitas informasinya. Namun, para pembaca bisa dengan mudah menemukannya dengan hanya mengetikkan “Potensi Energi di Indonesia” pada kolom pencarian di “browser” yang ada di “gadget” pembaca. Tidak sulit pembaca untuk menemukan banyak data yang disediakan di sana.

Setidaknya ada berbagai sumber energi mulai dari yang tidak dapat diperbarui hingga yang dapat diperbarui, semua potensi tersebut ada di negara Indonesia. Dari kehadiran beberapa perusahaan besar di Indonesia cukup menjadi bukti bahwa data itu sesuai kenyataannya meskipun besarannya tidak ada yang tahu keabsahannya. Namun, meskipun Indonesia memiliki banyak potensi energi, hingga saat ini sumber energi fosillah yang masih sering digunakan dengan berbagai alasan dan pertimbangan.

Inilah sebuah fakta yang tidak bisa dipungkiri bahwa serapan energi di Indonesia belum seimbang sehingga pembangunan belum merata dan masih banyak dari warga Indonesia yang berada di pelosok, yang tidak mudah dijangkau oleh sumber energi fosil, belum merasakan potensi yang ada. Sebuah fakta yang miris padahal Indonesia punya potensi lain yang cukup besar. Ini sungguh bukti nyata dari pepatah yang pernah ada yang berbunyi “Ibarat tikus mati di tengah lumbung padi”.

Apa yang membuat hal ini terjadi? Sebenarnya bukan para pembuat kebijakan tidak tahu kondisi nyata Indonesia dewasa ini. Namun, kebanyakan dari mereka tidak terlalu menitikberatkan dirinya pada dasar hidup bernegara sebagai pemangku kebijakan terutama bernegara Indonesia yang jelas-jelas semua termaktub di Pembukaan UUD 1945, Pancasila, dan pasal demi pasal yang tersurat di UUD 1945.

Hal ini sudah diwarisi entah dari sejak kapan. Perilaku konsumtif yang tidak terlalu memikirkan tetangganya dan masa depan anak-cucu kedepannya. Sesungguhnya sesuatu yang tidak dapat diperbarui akan habis seiring berjalannya waktu. Di lain sisi warisan yang tidak didapatkan masyarakat adalah kebanyakan masyarakat tidak tercerdaskan bahwa Indonesia punya potensi lain baik energi baru maupun energi terbarukan. Masyarakat masih terbuai akan nikmatnya energi fosil yang saat ini dan masyarakat tidak sadar bahwa semua itu hanya menunggu waktu.

“Dulu negara kita di atas awan, sekarang jauh di bawah bumi.”

Ada benarnya dan memang kita tidak bisa berkata “tidak” bahwa Indonesia memiliki posisi ternikmat dikarenakan SDA yang dimiliki. Hal itu pula yang seharusnya dapat mengangkat harkat dan martabat Indonesia. Namun, sayang seribu sayang Indonesia tidak memiliki daya tawar yang begitu kuat. Yang ada Indonesia berada di kotak permainan bukan sebagai pemain. Bahkan yang lebih parahnya, masyarakat tidak pernah disadarkan akan dampak negatif dari eksploitasi energi fosil yang berlebihan. Surga yang dahulu katanya tidak sulit ditemukan mungkin beberapa puluh tahun lagi, anak-cucu Indonesia sudah tidak bisa melihatnya. Indonesia yang baru berumur 71 tahun sudah kehilangan wajah ayunya. Bagaimana dengan seratus tahun lagi? Sulit tergambarkan jika Indonesia masih terbuai dengan potensi yang ada tetapi pada kenyataannya penyerapannya belum seimbang.

Selain itu, anak-cucu Indonesia hanya diwariskan jejak-jejak ulah para pendahulunya. Surga hanya tinggal sejarah dan cerita akan membuat mereka enggan untuk bangga dengan negaranya. Mereka hanya akan mendapatkan warisan berupa lingkungan yang bisa disebut rusak. Mereka tidak menemukan lagi di bagian mana Indonesia “Tongkat kayu dan batu bisa jadi tanaman”. Di perairan mana Indonesia “Ikan dan udang menghampiri” mereka. Di pulau Indonesia bagian mana yang tidak mengusik mereka yang katanya “Tiada badai tiada topan”. Hanya orang yang tidak pernah tahu dan tidak mau tahu yang menganggap bahwa eksploitasi bahan bakar fosil di dunia tidak berdampak buruk bagi kehidupan di bumi. Efek rumah kaca yang mengusik kenyamanan, kenaikan suhu bumi sudah menjadi bukti nyata, serta hujan asam, hutan yang rusak, perairan yang tercemar merupakan teguran untuk penduduk bumi. Sudah saatnya beralih ke sumber energi yang lebih ramah lingkungan.

“Jika terjatuh bangkitlah hingga kita berdiri dan terus berjuang dengan dungkul kita dan bahkan dengan merangkak sekalipun hingga darah tak mau lagi melekat di daging kita.”

Belum berakhir. Tentu semuanya belum berakhir. Masih ada tunas-tunas pemimpin yang memiliki kepintaran dan wawasan yang mengglobal. Namun, semua perlu diasah, dilatih, sebagai usaha pembiasaan. Terkadang dengan melihat dari layar itu belum cukup. Terkadang dengan mendengar itu tidak mendapatkan perubahan yang cukup berarti. Kita harus siap hadir di tengah-tengah mereka yang hanya mengenal siang. Pernahkah hidup seatap dengan mereka yang tidak mengenal kasur? Pernahkah duduk dan bercengkrama dengan mereka sembari menarik sehelai benang demi mengusir burung dari padi-padi hijau di sawah? Tinggal dan hidup bersama mereka merupakan salah satu cara pemimpin atau calon pemimpin untuk mengetahui kondisi bangsa yang sesungguhnya serta kebutuhan yang benar-benar mereka butuhkan. Proses ini juga bermanfaat bagi pertumbuhan empati pemimpin.

Inilah yang menjadi tantangan generasi penerus bangsa Indonesia kedepannya. Tidak lagi lepas tangan atas realita yang ada. Saatnya membangun dari bawah tak perlu menyalahkan mereka yang di atas sana. Mari mengambil bagian yang bisa kita lakukan. Ketahuilah masa mereka tidak akan lama lagi. Mereka sama saja seperti fosil yang ada, mereka akan punah. Dan kita para pemuda pemudi, tunas bangsa, harus siap menggantikan posisi mereka. Kitalah penerus bangsa, namun bukan meneruskan tradisi dan budaya perusak.

Sebagai generasi penerus bangsa, sudah seharusnya kita sepakat dengan apa yang dikatakan oleh Tan Malaka, “Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali”. Sindiran halus ini seharusnya bisa menjadi pendobrak semangat kaum muda masa kini dan kedepannya.

Tiap daerah punya potensinya masing-masing. Tidak mesti memaksakan energi fosil dibawa dari benua asing sedang di dalam rumah sendiri sudah tersedia. Saatnya merangkul para warga dan mengedukasi pengelolaan potensi yang dimiliki dengan metoda partisipasi dan bersama-sama melakukan pengembangan teknologi tepat guna baik untuk potensi yang ada maupun untuk limbah yang dihasilkan. Salah satu contoh yang paling mudah semisalnya di desa yang ditemui ada peternak sapi, alangkah baiknya jika mampu memanfaatkannya untuk kompor biogas. Selain itu kotorannya dapat digunakan sebagai pupuk sedang urinenya bisa digunakan sebagai pestisida yang akan disemprotkan ke daun tanaman. Itu hanya salah satu contoh pemanfaatan potensi lokal dalam pengurangan bahan bakar fosil. Ini bisa menjadi bahan pemikiran awal para pemuda untuk memanfaatkan potensi yang sama untuk penerangan dan sumber listrik.

Oleh karena itu anak muda harus mampu menjawab tantangan Indonesia selama ini. Bukankah selama ini Indonesia juga krisis energi karena kebutuhan energi jauh lebih besar dibanding produksinya. Lebih mirisnya pengelolaan sektor energi belum dimaksimalkan. Karena potensi yang diumbar terlalu melebihi informasi yang seharusnya atau bahasa gaulnya “lebay”, akhirnya hingga saat ini Indonesia lebih memilih mengimpor bahan jadi ketimbang mengelolanya sendiri. Ini sifat buruk yang diwarisi para pendahulu dan tidak boleh diikuti.

Ingat, kaum muda tidak boleh lupa, PR pemuda, selain pemanfaatan sumber energi yang lebih ramah lingkungan juga teknologi tepat guna dan mudah digunakan oleh semua kalangan serta sesuai dengan daya dukung lokal. “Yang paling menyesakkan dari industri modern adalah bahwa dia menuntut terlalu banyak tetapi menghasilkan terlalu sedikit. Industri modern nampak begitu sangat tidak efisien sampai ke taraf yang tak bisa lagi dibayangkan oleh orang awam. Karena itu, ketidak-efisienannya luput dari perhatian. Kebijakan membutuhkan suatu orientasi baru tentang ilmu pengetahuan dan teknologi ke arah yang organik, tidak mengandung kekerasan, anggun dan indah.” (E.F. Schumacher, Kecil itu Indah: Ilmu Ekonomi yang Sesuai dengan Rakyat, 1976).

Saatnya kaum muda bangkit dan keluar dari zona nyaman. Mengulurkan tangan sepenuh hati. Mengajak, merangkul, dan mempengaruhi pemuda lain untuk sama-sama terjun dan menciptakan sejarah baru. Karena kemajuan suatu negara berada di tangan pemudanya. Dan pemuda adalah pewaris tunggal bangsanya.

Narashakti!

 Sumber: https://ricolg.blogspot.co.id/2016/09/pemuda-pewaris-tunggal.html

Berbagi Kisah, Berbagi Inspirasi:

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Comments

    Narashakti