Membangun Jendela Hingga Ke Pelosok Nusantara

Rico Lumban Gaol Aug 17, 2016 Kisah Desa
Berbagi Kisah, Berbagi Inspirasi:

“Jika anak sekolah di perkotaan rela menyibukkan dirinya menghabiskan waktu untuk belajar mencintai alias pacaran, salah satu keluarga Narashakti ini memilih datang ke pelosok nusantara untuk menebarkan benih mencintai belajar.”

Dari Kolaka menuju Tanjung Jabung Barat bukan untuk menyalahkan siapa-siapa. Melainkan memberikan diri untuk mengambil sedikit peran demi masa depan bangsa yang sudah menantikan kehadiran tunas-tunasnya. Cerita kali ini mengisahkan perjuangan salah satu keluarga Narashakti yang bernama Mita Apriani yang dipanggil dengan Mita di desa Kuala Baru, kecamatan Seberang Kota, kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi.

Sewaktu di desa, Mita menemui kondisi sekolah yang butuh perhatian khusus seperti halnya sekolah-sekolah lain yang berada di daerah terpencil. Ketika pelajar di kota “dimanja” dengan berbagai akses seperti halnya komputer penunjang belajar, di desa, di tempat Mita mengabdikan dirinya, ruang baca seperti perpustakaan saja mereka tak punya.

“Buku adalah jendela dunia!”

Setiap orang yang berpendidikan meyakini bahwa pendidikan merupakan salah satu kebutuhan utama untuk kemajuan suatu bangsa. Kualitas pendidikan menjadi sorotan yang sedang maraknya dewasa ini. Kaum terpelajar juga sering berteriak bahwa buku adalah jendela dunia. Melalui buku orang tahu apa yang sedang terjadi di luar dunianya. Namun yang jadi pertanyaan, siapa yang hendak membangun jendela itu hingga ke pelosok bangsa ini?

Disaat orang-orang sedang sibuk bercerita tentang kotornya selokan, Mita memilih untuk mengotori tangannya di selokan tersebut demi kontribusi nyata membersihkan selokan yang ada. Berdasarkan data kualitatif dengan metoda partisipatif Mita mendapatkan hasil pengamatan mengenai fakta selama di desa.

Oleh karena itu Mita dan guru setempat sepakat menciptakan “ruang” baca di sekolah yang ada di desa. Bukan gedung yang menjadi prioritas mereka melainkan pembiasaan. Mita hadir dengan jutaan benih-benih mencintai belajar. Mita hanya memanfaatkan ruangan yang ada, dan hanya berisikan 100 judul buku.

Kemauan dan perjuangan serta keikhlasan mampu mengubah yang tidak ada menjadi ada. Langkah awal yang dilakukan oleh Mita dalam pengadaan “ruang” baca yaitu menyampaikan bantuan buku dan majalah anak-anak ke SD Negeri No. 058/V Parit Timur. Buku dan majalah yang diberikan tersebut berasal dari Komunitas Buku di Jakarta.

Perpus

Gambar 1 Rak Buku yang Digunakan

Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.”
Mita memang hanya melakukan hal yang kecil namun dia percaya melalui langkah kecil itu akan membawa perubahan besar bagi desa yang ditempatinya saat itu. Ditambah lagi dia mendengar dari kepala sekolah setempat bahwa rencananya akan dibangun gedung SMP (Sekolah Menengah Pertama) satu atap dengan SD tersebut. Kepala sekolah desa itu juga mendukung jerih payah Mita. Bahkan kepala sekolah itu sudah mengajukan agar dibangunkan ruangan untuk perpustakaan pada saat pembangunan SMP tersebut.

Apalagi kepala sekolah melihat aksi nyata dari Mita ditambah respon positif dari para siswa. Mita berbagi terkait pembiasaan membaca selama sepuluh menit sebelum memulai pelajaran. Setiap pagi setiap siswa yang masuk kelas akan dibagikan satu buku atau majalah untuk dibaca. Jika waktu sepuluh menit yang diberikan sudah habis, kegiatan membaca akan dihentikan. Bagi yang masih penasaran untuk melanjutkan bacaannya, siswa boleh melanjutkan bacaannya saat jam istirahat atau meminjam buku bacaan tersebut dan mengembalikannya setelah selesai.

Baca

Gambar 2 Pembiasaan Membaca Sepuluh Menit Sebelum Memulai Pelajaran

Selain itu Mita juga mengatakan kepada kepala sekolah tersebut bahwa gerakan ini harus bisa berkelanjutan sekalipun dia sudah pulang. Syukurlah niat baik itu disambut dengan baik pula oleh kepala sekolah dan mengerti akan keinginan Mita. Kepala sekolah itu menunjuk salah satu guru sebagai penanggung jawab “ruang” baca. Mereka sama-sama belajar bagaimana mengorganisir “ruang” baca dengan baik.

Dengan melakukan metode seperti ini Mita dan kepala sekolah beserta guru-guru berharap bisa memantik siswa semakin mencintai belajar melalui membaca. Semoga kehadiran “ruang” baca di sekolah tersebut bisa melahirkan tunas-tunas yang mengerti kebutuhan bangsanya dan calon pemimpin bangsa yang berwawasan luas.

Dari apa yang dilakukan Mita membuat kami semakin percaya bahwa “lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan”. Dan juga tidak hanya sampai berhenti mengeluh.apalagi sekedar berkata-kata bagai api yang membara. Melainkan terjun dan memberikan diri dengan sepenuh hati untuk ibu Pertiwi. Mari berjalan selangkah demi selangkah.

Narashakti!

Berbagi Kisah, Berbagi Inspirasi:

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Comments

Narashakti