Bukan Tentang Jalan Yang Berliku Melainkan Tentang Niat Yang Bulat

Rico Lumban Gaol Aug 17, 2016 Kisah Desa
Berbagi Kisah, Berbagi Inspirasi:

Stev

Namanya Stevie Jeremia, panggilannya Koko Stiv. Koko merupakan salah satu dari Alumni Patriot Energi keberangkatan pertama, keluarga Narashakti, yang kembali lagi pada keberangkatan kedua. Penempatan Koko di desa Minanga, desa yang merupakan salah satu “surga tersembunyi” di Kabupaten Mamasa, Kecamatan Nosu.

Koko memilih kembali ke desa Minanga dikarenakan belum selesainya perjuangannya di desa tersebut dan masih banyak potensi yang belum dimaksimalkan. Memang awalnya Koko berniat untuk memilih daerah lain, tetapi agak sedikit merasa aneh untuk berpindah ke desa lain sedang desa sebelumnya masuk dalam list desa yang harus dikunjungi kembali oleh patriot. Singkat cerita Koko pun memilih untuk kembali apalagi memang ada harapan warga sekitar, di penempatan, berharap Koko kembali dan membantu mereka dalam memasarkan kopi Minanga.

Tentu Koko sebagai Patriot sudah mengerti bagaimana alur untuk membangun sebuah Bisnis Sosial, selain memang dia suka dengan dunia itu, di pelatihan Patriot ini pun peserta ditempah untuk mengerti alur berpikir Bisnis Sosial yang keberpihakannya kepada rakyat, kemandirian lokal, bukan kepada keuntungan. Akhirnya Koko kembali dan membawa segudang ilmu yang sudah digalinya terutama mengenai dunia per-kopi-an.

“Segala sesuatu yang di bawah langit ada waktunya! Indah pada waktunya.”

Sepulangnya ke desa ternyata Koko tidak melihat dan tidak menemui keadaan dan binar mata dari orang-orang kepercayaannya seperti sediakala. Salah satunya Pak Baso, Kades yang juga orang tua angkat Koko di desa saat periode pertama. Dulu, waktu periode pertama penempatan, Pak Baso lah salah seorang yang meminta Koko untuk membantu mempromosikan kopi dari desa Minanga. Pak Baso juga yang bekerja keras termasuk menanggung banyak pengeluaran terkait pembangunan PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya), misalnya saja pengeluaran makan harian warga yang gotong royong dalam pembangunan, makan harian kontraktor termasuk Koko dan teman sepenempatannya saat itu.

Bahkan pengeluaran teknis seperti beberapa peralatan dan bahan penunjang pembangunan PLTS juga ditanggung olehnya. Jika dirunut lagi, pada tahun 2012 Pak Baso lah yang menginisiasi mengajukan proposal PLTS dari desa. Kalau hal itu tidak terjadi tentu Koko dan temannya, Sasa, dipastikan tidak memiliki cerita dan pengalaman seluar biasa ini. Hal itu pula yang mendorong Koko yakin untuk kembali ke desa tersebut.

Kini, Koko melihat selama beberapa hari sepulangnya Koko ke desa, pak Baso terlihat sibuk bolak balik ke Mamasa kota, ternyata pak Baso sedang ikut mengurus Pilgub dan Pilkades untuk periode 2017. Bahkan dengan kesibukannya, beliau tidak terlalu mengambil pusing apakah beliau akan terpilih kembali di Pilkada berikutnya, sebab beliau sangat yakin bahwa warga setempat tahu siapa yang terbaik untuk desa mereka.

Koko pun menganalisa kemungkinan kesibukannya saat ini sangat sulit memiliki waktu untuk mengurus dunia per-kopi-an untuk saat ini. Padahal seingat Koko, Pak Baso inilah yang menitipkan 3 kg kopi panggang desa dan 1.5 kg kopi mentahnya pada Koko sebelum Koko pulang saat periode pertama kemarin. Barangkali prinsip kooperatif sudah teraplikasi dalam kondisi ini, pak Baso memang sudah sebaiknya bertarung pada ranah pemerintahan, sedangkan Koko bisa mencari orang lain dalam urusan per-kopi-an ini.

Begitu juga Pak Pieter. Pak Pieter merupakan teman Koko “Mengopi” (Mengolah Pikiran) pada periode pertama kemarin. Koko senang berbincang-bincang dengannya karena mereka memiliki hobi yang sama yakni sebagai pebisnis. Pak Pieter juga berpengalaman pada bidang pariwisata dan juga sebagai salah satu penyandang sarjana di desa. Namun, pemikiran pak Pieter mengenai kebun kayu manis dan kopi tumbuh terinspirasi dari temannya yang pebisnis kopi toraja, dan yang merengkuh keuntungan dengan sistem kapitalisme.

Koko melihat pak Pieter sebagai orang yang berpotensi ditambah lagi pak Pieter guru di Toraja, di desa salah satu patriot lain yang bernama Maya. Sehingga pekan pertama Koko ingin segera mengeksekusi pembuatan “Rumah Kaca” untuk pengering kopi, ditambah lagi posisi rumahnya tepat di tengah desa. Tetapi sebelum dieksekusi pak Pieter malah menyarankan untuk membangun di rumah Ambe’ Feri (Ambe’ itu ayah dan Feri itu nama anak sulungnya). Konon Ambe’ Feri merupakan kawan pak Pieter. Ambe’ Feri memiliki banyak pohon kopi, sedangkan Pak Pieter sendiri lebih banyak memiliki kayu manis. Akhirnya Koko berkunjung ke rumah Ambe’ Feri.

“Barangsiapa yang bersungguh-sungguh maka dia akan berhasil!”

Dalam proses pencarian rumah Ambe’ Feri, Koko pun bertemu Pak Simon (Ambe’ Sara). Itu bukan pertemuan pertama mereka dan sesungguhnya Pak Simon merupakan kakek yang rajin, semangatnya tak pernah kendur dan semangat belajarnya sangat tinggi padahal beliau sudah tua. Setelah berbincang-bincang terkait niatan kembali ke desa akhirnya pak Simon dan Koko sepakat bahwa “Rumah Kaca” dibangun di tanah miliknya, yang berlokasi tepat di sebelah kantor desa. Apalagi Ambe’ Sara juga punya banyak pohon kopi.

Sebagai penghargaan awal Koko memberikan dengan cuma-cuma jaring-jaring pengering kopi dan kopi-kopi “kekinian” dari kota di luar kota Toraja yang kemudian mereka seduh. Hari itu sudah lumayan siang, agak terlambat kalau mau memulai proyek kecil itu karena semakin petang semakin dingin dan berangin.

Tapi tiba-tiba sehabis makan siang di rumah Ambe’ Sara, Koko melihat peralatan yang sudah tersandar rapi, di dekat lokasi proyek, 2 batang bambu sepanjang 10 meter dengan diameter 12 cm. Padahal yang Koko harapkan adalah bambu-bambu kecil untuk pemerataan pengeringan. Kemudian si bapak mengambil kembali bambu sesuai keinginan Koko, hasilnya juga belum sesuai. Akhirnya Koko tetap memakai bambu yang ada.

Pada 26 Juli 2016, kerangka rumah kaca sudah jadi. Mereka mengerjakan bersama-sama juga dibantu anak-anak pak Simon. Jam 5 mereka menyudahi pekerjaan lagipula waktu itu belum ada jaring. Mereka masuk ke teras rumah pak Simon untuk lanjut berbagi cerita sembari menyeduh kopi ala kota yang sudah dipelajari Koko sebelumnya.

Ada beberapa hidangan yang Koko buat dengan biji kopi dan tentu dengan cara seduh yang berbeda-beda pula. Seperti yang Koko sudah duga, orang Indonesia pada umumnya tahu bahwa yang namanya kopi itu mesti hitam dan pahit. Jadi yang seperti itu lah yang orang Indonesia umumnya suka.

Sedang yang Koko hidangkan malah yang berwarna coklat, rasanya asam manis dan aneh-aneh. Keluarga pak Simon menganggap bahwa bijinya belum matang dipanggang. Padahal menurut Koko dan sepengalamannya mungkin karena keluarga tersebut belum mengenal citarasa kopi yang beraneka ragam. Koko menyimpan rasa itu agar semakin bertambah pula rasa yang dimiliki keluarga tersebut.

Keesokan harinya Koko langsung melengkapi pembangunan rumah kaca tentunya setelah membeli jaring yang dibutuhkan. Hari ketiga mereka panen kopi bersama dan Koko juga berperan sebagai orang yang memberikan pengetahuan baru kepada warga sekitar mengenai cara panen kopi, mulai dari memetik hingga menyimpan.

Koko memberikan pandangan bahwa ternyata selama ini wajar saja hasil panen tidak sebaik panen sebelumnya sedang dalam petik saja mereka belum memerhatikan, belum mengetahui, tekniknya. Mereka memetik hingga tangkai buah kopinya ikut tercabut, padahal itu berimbas pada calon buah yang akan datang, alhasil harus sabar menunggu selama 1.5 tahun. Itu waktu yang diperlukan untuk menumbuhkan tangkai buah.

Logikanya, menurut Koko, dalam waktu 1.5 tahun itu ada periode berbuah 4 atau 5 kali, karena pohon kopi arabika berbuah terus menerus seperti cabai. Dikalikan dengan sekian ribu pohon. Betapa besarnya kerugian yang dialami petani kopi akibat ketidaktahuan mengenai hal itu. Memang cara memetik yang baik juga memerlukan perjuangan yang lebih yang jelas lebih pelan dan lambat sehingga membutuhkan waktu yang jauh lebih banyak pula. Tapi November mereka akan segera panen lagi.

Koko merasa tidak salah memilih orang kepercayaan setelah melihat kakek yang selalu mau belajar termasuk dalam hal memetik biji kopi sesuai anjurannya. Keluarga tersebut segera mencuci ceri kopinya dan meletakkannya di rumah kaca pengering kopi yang sudah menanti untuk dipakai.

Memang benar adanya bahwa kesungguhan akan membawa hasil. Oleh karena itu janganlah kita bosan berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, orang yang setia akan menuai hasilnya. Dengan kegigihan Koko mendapatkan pelajaran yang berharga bagi dirinya sendiri, mimpinya, untuk kembali ke desa, memberikan pelajaran untuk orang desa, dan untuk Indonesia.

Semoga dengan kehadiran Patriot, keluarga Narashakti, membawa sedikit harapan untuk Indonesia setidaknya bagi desa Minanga. Sesuai dengan namanya bahwa Narashakti ialah Patriot yang bergerak dengan energi alam semesta, sebut saja potensi lokal, untuk pemberdayaan masyarakat.

Narashakti!

 

Editor: Rico L. G.

Penulis: Stevie Jeremia

Berbagi Kisah, Berbagi Inspirasi:

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Comments

Narashakti