Berdua Lebih Baik Daripada Sendiri

Rico Lumban Gaol Aug 17, 2016 Kisah Kasih
Berbagi Kisah, Berbagi Inspirasi:

PROGRAM2

Mereka tak peduli entah tawa atau bahkan air mata yang ada di depan nanti karena mereka sepakat untuk melaluinya bersama. Mereka mengikat janji dan akan menjalani kehidupan dengan penuh pengharapan dan siap berbagi beban. Mereka telah resmi menjadi sahabat sejati yang menaruh kasih sepanjang waktu.

Mereka adalah Nur Ikah Septiani yang dipanggil Ikaho dan Muhammad Mahfud Rosyidi yang dipanggil Mahfud. Tepat pada hari Kamis tanggal 21 Juli 2016 di Sumenep, Jawa Timur, mereka telah resmi dan disaksikan oleh para saksi serta dimateraikan dalam jalinan kasih.

Awal mendapatkan undangan kami sebagai keluarga Narashakti sangat terkejut dan tidak pernah menyangka akan berita baik itu. Akan keberanian seorang lelaki yang tidak diduga-duga dan atas penerimaan seorang wanita yang tak disangka-sangka. Meskipun banyak dari keluarga Narashakti sering “men-cie-i” mereka berdua. Namun, kami tetap terkejut karena pada saat itu baik dari sisi wanita maupun pria tidak memberikan tanggapan yang cukup “mencurigakan”.

“Dari mana datangnya cinta? Darilah mata turun ke hati…”

Sepengetahuan kami dan sepengakuan mereka berdua bahwa selama proses ke-Patriot-an ini mereka sama sekali tidak pernah satu kelompok. Bahkan Mahfud sendiri mengakui sebelum penempatan, dia hanya tahu nama Ikaho, tahu dari institusi yang sama, tak lebih.

Sebenarnya Mahfud sendiri juga sudah siap dan memang tertarik dapat penempatan sendiri tapi kenyataan berkata lain yang artinya selama proses sebelum penempatan tak ada rasa ingin memilih oleh Mahfud kepada siapapun. Kenyataannya Mahfud malah dapat pasangan untuk bersama-sama dengan Ikaho mendampingi desa yakni desa Genting Pulur, kecamatan Jemaja Timur kabupaten Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau.

Badai menghempaskan mereka berdua ke tempat yang lebih indah dari pantai. Tak seorang pun yang tahu apa yang akan terjadi selama lima bulan kedepan atau bahkan sedetik kedepan. Seperti halnya desa penempatan mereka. Yang mereka ketahui adalah mereka di desa Genting Pulur, ya memang begitu adanya. Akan tetapi mereka harus menyebrang terlebih dahulu sekitar 30-an menit untuk sampai ke posisi PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) dibangun yakni di dusun Besuh dengan menggunakan pompong, perahu nelayan.

Kata mereka, seperti yang mereka temui di Anambas, tipikal rumah di perkampungan adalah rumah panggung yang dibangun di atas air laut. Selama kurang lebih lima bulan mereka hidup bersama dalam suka dan duka, gelombang serta pasang surutnya air laut sudah sering mengintip lika liku kehidupan mereka. Itu sudah cukup menjadi bukti bahwa mereka berdua sudah saling mengetahui dan memahami setidaknya kulit luarnya saja.

Desember tahun 2015 merupakan puncak rasa yang semakin membuat Mahfud yakin bahwa Ikaho adalah rencana yang dilahirkan Pencipta untuknya. Seorang pria yang berpenampilan sederhana dan berhati bijak ini pun menyusun sebuah rencana matang. Rencananya ialah sepulang dari penempatan dia akan sampai Surabaya pada tanggal 17 Maret dan akan segera bercerita ke ibu tersayang dan memang seperti itulah kenyataannya. Ibunya menyetujui rencananya bahwa dia akan segera melamar wanita yang telah berhasil menghanyutkan hatinya.

Lelaki yang berusaha misterius ini berencana akan meminang Ikaho pada detik-detik terakhir setelah selesai semua tahap “reorientasi”. Namun apa daya, waktu tak bisa diajak berkompromi. Mereka tidak punya waktu yang pas untuk menciptakan cerita yang romantik, yang hanya sekali seumur hidup mereka, di Panaruban.

“Tidak akan lari udara ditiup, tidak akan hilang langit ditatap. Demikian pula jodoh!”

Waktu kepulangan reorientasi peserta pun tiba. Mahfud tahu saat itu Ikaho tujuan ke Jakarta sehingga Mahfud memutuskan untuk ikut menuju Jakarta. Namun, Mahfud memilih untuk tetap menyimpan rahasianya agar tidak terlalu terlihat. Ikaho saat itu memilih dengan tujuan ke Halim sedang Mahfud sendiri ke Gambir.

Konon Ikaho menuju rumah adik iparnya sedang Mahfud ke Jakarta Utara ke rumah kakak sepupunya. Dan pada tanggal 14 April Mahfud Menghubungi Ikaho dengan tujuan awal ialah Gramedia, dengan rencana terselubung yakni melamar, keesokan harinya. Rencananya mereka akan bertemu di stasiun Jatinegara pada pukul 9 pagi. Pada malam itu juga Mahud sudah mempersiapkan segalanya termasuk membeli Indo*art Card untuk KRL Ikaho.

Ternyata esok harinya Ikaho datang terlambat, pukul 11 baru kelihatan batang hidungnya. Memang Ikaho sudah terbiasa terlambat sepengetahuan Mahfud. Akhirnya rencana berubah seketika, Gramedia pun tidak menjadi saksi atas momen berharga itu. Hari itu hari Jumat. Sehingga Mahfud memutuskan untuk Shalat terlebih dahulu. Sehabis itu mereka makan siang. Dan Mereka pun memutuskan untuk pergi ke Bogor. Setelah itu makan malam di Bogor dan tak lama, sekitar pukul 9 malam mereka memutuskan untuk kembali ke Jakarta.

Ternyata KRL itu dan malam itu menjadi saksi kelam, menguatkan kontak batin, peristiwa yang bermakna dalam hidup mereka. Tak ada alasan yang membuat Ikaho harus menolaknya dan tak ada pula kekuatan yang mendukung Ikaho untuk menerimanya selain memberikan kesempatan kepada Mahfud untuk menunjukkan keseriusannya kepadanya yakni dengan datang ke rumahnya dan meminta restu kedua orang tuanya.

Tanggal 12 Mei Mahfud datang sendiri memperjuangkan yang seharusnya diperjuangkan setiap insan yang sudah yakin dengan pilihannya. Tanggal 15 Mei Mahfud melamar Ikaho beserta keluarganya. Dan tanggal 22 Mei keluarga Ikaho membalas lamarannya sembari menentukan tanggal yang pas untuk melangsungkan hari yang dinanti-nantikan kedua belah pihak. Berdasarkan pertimbangan dan kesepakatan bahwa tanggal 21 Juli adalah tanggal yang dipilih oleh mereka semua.

“Cinta itu membuat seorang merasa cukup menerima, menerima setiap kelebihan dan kekurangan masing masing,” Kata Mahfud meyakinkan Ikaho bahwa dia sungguh-sungguh memilih Ikaho.

Kini mereka sudah menjadi pasangan Patriot pertama yang dengan gagah berkata “Kami Siap Membangun Keluarga!” Karena mereka yakin bahwa berdua lebih baik daripada sendiri. Dan mereka berani tak mau ikut arus “pacaran-pacaran entah kapan ke pelaminan”, mereka berdua membuktikan bahwa “diam-diam bisa ke pelaminan”, eh.

Ketahuilah saudara-saudari kami, ibarat dua helai kain yang disatukan oleh jahitan demikian pula hubungan suami istri yang disatukan jahitannya, jahitan itu adalah pengertian. Maka selayaknyalah kalian seiya sekata dalam setiap tindakan.

Semoga kalian menjadi keluarga Patriot yang melahirkan putra putri Patriot. Amin!

Sai tubu ma tambisu ~ Tumbuhlah pohon tembisu
Di toru ni pinasa ~ Di bawah pohon nangka
Sai tubu ma dihamu anak na bisuk ~ Lahirlah bagimu putra yang bijaksana
Dohot boru na uli basa ~ Dan putri yang cantik dan baik budi

Narashakti!

Berbagi Kisah, Berbagi Inspirasi:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Comments

Narashakti